Sebuah Tim Dokter Spesialis RS Hasan Sadikin Disiapkan untuk Tangani Kasus Dede
Written at Nov 29th 2007, 22:12
Category: Berita
“Saya ke sini ingin melihat langsung kondisi Pak Dede. Bapak Presiden dan Ibu Hj. Ani Yudhoyono juga menitip salam dan doa untuk kesembuhan pak Dede “. Apa yang ingin pak Dede sampaikan pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono “, tanya Menkes saat menjenguk Dede di ruang perawatan Bedah Bawah RS Hasan Sadikin Bandung tanggal 25 November 2007. Saat ditanya lagi, apa yang ingin disampaikan kepada Presiden, dengan suara lirih Dede menjawab bahwa ia ingin cepat sembuh dari penyakit yang dideritanya. Itulah sekelumit percakapan Dr. Siti Fadilah Supari ketika menjenguk Dede. Tak lupa Menkes berpesan agar pak Dede tidak usah kawatir, karena biaya perawatan ditanggung pemerintah.
“Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaruh perhatian terhadap penderitaan yang dialami Dede melalui tayangan sebuah stasiun televisi swasta. Karena itu, beliau meminta saya untuk segera melakukan upaya untuk menangani kasus tersebut sebaik-baiknya”. Karena itu saya buru-buru ke sini, ujar Menkes kepada wartawan saat jumpa pers usai menjenguk Dede. Mengenai biaya perawatan Dede selama di RS Hasan Sadikin Bandung menjadi tanggungan pemerintah. “Pemerintah akan menanggung semuanya. Saya sudah bilang pada pak Dede agar tidak memikirkan apa pun”, tegas Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K).
Dr. Siti Fadilah minta tim dokter melakukan pemeriksaan lengkap. “ Kalau perlu, kita undang ahli dari rumah sakit lain seperti RSCM Jakarta bahkan kalau perlu ahli dari luar negeri”, tegas Menkes. Ia menambahkan, jika ilmu kedokteran di Indonesia tak sanggup mengobati Dede, tak tertutup kemungkinan pengobatan dilakukan di luar negeri. “Dalam ilmu kedokteran dikenal referral system dan itu sah selama untuk kepentingan pengobatan”, kata Dr. Siti Fadilah. Menkes juga berencana mengirim surat ke University of Maryland, Amerika Serikat untuk menanyakan hasil tes darah Dede yang dilakukan seorang dokter dari universitas itu beberapa waktu lalu. Kerja cepat juga dilakukan Direktur Utama RS Hasan Sadikin Bandung dengan membentuk sebuah Tim Dokter untuk menangani kasus “Dede” yang dijuluki manusia akar dari Cililin Bandung Barat. Tim dokter beranggotakan 12 dokter dari berbagai spesialisasi seperti ahli kulit dan kelamin, penyakit dalam, ortopedi dan traumatologi, patoligi klinik, bedah, radiologi, anestesiologi dan lain-lain serta seorang ahli keperawatan, diketuai dr. Rachmat Dinata, Sp. KK (K). Menurut Prof. Dr. Cissy RS Prawira, Sp. AK (K), Direktur Utama RS Hasan Sadikin, tim penanganan pasien kasus “ Epidermo Dysplasia Veruca Formis + Giant Cutaneus Horn”, telah dibentuk untuk memeriksa dan menangani Dede secara menyeluruh. Pria yang dijuluki “Manusia Akar bahkan ada yang menyebut Manusia Pohon” itu telah dirawat sejak Jumat, 23 November 2007. Pihak RS juga melakukan tes DNA terhadap pasien, ujar Prof. Dr. Cissy. Dede (37 th), warga Desa Bunder, Cililin, Cihampelas Bandung itu, seluruh tubuhnya dipenuhi kutil ganas yang membesar dan memanjang menyerupai akar pohon. Dalam istilah kedokteran, penyakit ini dikenal sebagai “ Epidermo Dysplasia Veruca Formis + Giant Cutaneus Horn”. Penyakit ini disebabkan virus human papilloma (HPV). Menurut Ketua Tim Dokter yang menangani kasus Dede, Dr. Rachmat Dinata, pasien pernah dirawat di RS Hasan Sadikin selama 460 hari. “Tetapi upaya-upaya yang dilakukan tidak dapat mengobati penyakitnya dan menurut referensi yang kami baca memang belum ada obat yang pasti untuk penyakit ini”, ujar Dr. Rachmat. Dari catatan rumah sakit ini, Dede dirawat pada November 1996 hingga Maret 1998. Dokter pernah menempuh berbagai cara diantaranya pemberian vitamin A bahkan sempat melakukan bedah sebanyak 2 kali, termasuk bedah plastik pada lengan bawah tangan kiri dan lengan tangan kanan. Tetapi, 40 hari paska operasi, timbul lesi baru di tempat operasi, kata Dr. Rachmat. Penderitaan Dede dimulai sejak berusia 15 tahun. Saat itu timbul kutil sebesar biji kacang hijau di kedua tungkai bawah, tanpa terasa nyeri atau gatal. Lima tahun kemudian kutil menyebar ke kedua lengan terutama ujung jari tangan dan punggung tangan, kulit menjadi tebal menyerupai tanduk. Tiga tahun kemudian masih bertambah banyak dan pernah diobati dengan “ obat kampung “ tetapi tanpa hasil.


