Gempa Bumi Tektonik Nusa Tenggara Barat
Gempa tektonik melanda Raba, ibukota Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Gempa pertama terjadi hari Minggu, 25 November 2007 pukul 23.02 WIB. Pusat gempa yang berkekuatan 6,7 Skala Richter tersebut terletak 50 km arah Barat Laut dari Raba (pada titik 8,27 LS - 118,35 BT, pada kedalaman 50 km. Gempa susulan berkekuatan 6,8 SR terjadi pada pukul 02.03 WIB dini hari, pada titik 8,11 LS-118 BT, masih di sebelah Barat Laut Raba. Kerusakan terparah diderita oleh kecamatan Kilo, 65 km dari kota Bima atau 12 jam berkendaraan mobil dari Kota Mataram. Gempa telah menyebabkan longsor dan terputusnya jalur lalu lintas menuju daerah Kilo.
Pusat Krisis Kesehatan Departemen Kesehatan melaporkan bahwa hingga tanggal 26 November 2007, pukul 12.00 WIB, 3 orang meninggal dunia dan 55 orang luka-luka. Di RSUD Dompu, 16 orang menjalani rawat inap (3 diantaranya menjalani operasi patah tulang) dan 17 orang menjalani rawat jalan. Dua belas (12) orang lain menjalani rawat jalan di Puskesmas Kilo.
Jajaran kesehatan di Kabupaten Dompu melaporkan bahwa 504 bangunan rusak, baik ringan, sedang, maupun berat. Empat (4) Puskesmas rusak sedang. Lima (5) Pustu rusak berat dan 5 lainnya rusak sedang. Empat (4) rumah dinas dokter rusak sedang, 13 rumah paramedis rusak sedang, dan 7 Polindes rusak sedang. Di daerah Bolo, robohnya sebuah Puskesmas Perawatan melukai 5 stafnya.
Jajaran kesehatan telah melakukan evakuasi korban, pelayanan kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit, serta membuka Pos Kesehatan. Untuk mengatasi permasalahan kesehatan akibat bencana gempa bumi tektonik di Propinsi Nusa Tenggara Barat, Departemen Kesehatan telah mengirimkan bantuan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dan Makanan Siap Saji, serta 1 orang staff untuk melakukan pemantauan dan koordinasi di lokasi bencana.
Permasalahan kesehatan akibat gempa bumi tektonik yang terjadi di Propinsi Nusa Tenggara Barat sampai saat ini dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Namun demikian Dinas Kesehatan Propinsi NTB, , Dinkes Kabupaten Dompu, Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Regional Bali dan PPK Depkes RI terus melakukan upaya pemantauan terhadap perkembangan permasalahan kesehatan.


